Format music MP3, lisensinya di hentikan


File audio digital yang sering kita kenal dengan nama ‘MP3’ akan segera menghilang dari peredaran. The Fraunhofer Institute for Integrated Circuits, sebagai pencipta format file tersebut mengumumkan akan menghentikan lisensi penggunaan format file audio, MP3.
Dilansir engadget.com, direktur Fraunhofer Institute mengatakan MP3 kini sudah tergantikan dengan tipe format file yang lebih baik yaitu AAC (Advanced Audio Coding). AAC menjadi tipe file standar yang banyak digunakan untuk mengunduh video dan musik terutama melalui ponsel.
“File ini lebih efisien dan punya fungsi yang lebih baik. Terutama siaran streaming radio dan TV, dengan file itu (AAC), bisa memberikan kualitas audio yang lebih baik dari MP3,” ujar direktur perusahaan asal Jerman tersebut.
Ironisnya, Fraunhofer sendiri sudah mengembangkan tipe file AAC yang punya kualitas lebih baik dari MP3.
 Meski format file ini akan dihentikan, Fraunhofer mengatakan perubahan ini tidak akan berpengaruh banyak pada konsumen dan pecinta musik. File MP3 lama Anda tidak akan secara tiba-tiba berhenti berfungsi. Selama gadget atau aplikasi yang Anda gunakan masih mendukung tipe file ini, maka Anda masih bisa menikmati file dengan format MP3.
Awal penelitian format file audio sendiri dimulai di Friedrich-Alexander University of Erlangen-Nuremberg sekitar akhir tahun 1980-an. Para peneliti dari kampus tersebut bekerja sama dengan Fraunhofer Institute yang kemudian melahirkan tipe file audio bernama MP3.
 

Ber-Etika dan ber-etiket di Komunitas /group media sosial

Dalam perkataan sehari-hari kata etika dan etiket sering dicampuradukkan, padahal kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda, walaupun ada persamaannya. Istilah etika adalah berkaitan dengan moral (mores/adat istiadat). Sedangkan etiket adalah berkaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Persamaan keduanya adalah mengenai perilaku manusia. Baik etika maupun etiket yaitu mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya memberi norma manusia bagaimana seharusnya berbuat dan tidak berbuat. Pendapat lain juga mengatakan bahwa etiket adalah tata aturan sopan santun yang disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah laku sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan.

Berdasarkan hal hal tersebut, karena dewasa ini situs web dunia maya yang menyediakan layanan jejaring sosial (misalnya FACEBOOK, WHATSAPP, LINE, BBM dan sebagainya) sudah semakin menjamur dan benar-benar menjadi sebuah kebutuhan dengan salah satu fasilitasnya yaitu kita bisa membuat sebuah GRUP/KOMUNITAS, maka tidak ada salahnya kalau kita mencoba belajar memahami etika dan etiket dalam sebuah grup atau komunitas.

Continue reading “Ber-Etika dan ber-etiket di Komunitas /group media sosial”

 

Apa Itu Cloud Computing?

Cloud Computing? pasti banyak dari para pembaca yang sudah sering dengar kata tersebut, atau jika belum pernah dengar, mungkin pernah dengar istilah dalam bahasa Indonesia-nya, yaitu “Komputasi Awan”. Ada banyak sudut pandang untuk menjelaskan apa itu Cloud Computing, Wikipedia sendiri menjelaskan Cloud Computing seperti DISINI.

Berdasarkan jenis layanan-nya, Cloud Computing dibagi menjadi berikut ini:

Software as a Service (SaaS)

layanan dari Cloud Computing dimana kita tinggal memakai software (perangkat lunak) yang telah disediakan. Kita cukup tahu bahwa perangkat lunak bisa berjalan dan bisa digunakan dengan baik. Contoh: layanan email publik (Gmail, YahooMail, Hotmail, dsb), social network (Facebook, Twitter, dsb) instant messaging (YahooMessenger, Skype, GTalk, dsb) dan masih banyak lagi yang lain.

Continue reading “Apa Itu Cloud Computing?”

 

Pintar di Medsos, Think Before You Share!

Peredaran hoax atau kabar bohong di media sosial bisa semakin parah jika dibiarkan. Netizen harus ekstra hati-hati dalam mengkonsumsi informasi dan menyebarkannya kembali.

Seperti diketahui, oknum penyebar hoax membagi informasi dari situs yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pengamat media sosial Nukman Luthfie menyarankan agar netizen kritis terhadap informasi yang berseliweran di media sosial maupun pesan instan. Jadilah orang ‘waras’ yang kritis di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir.

Think before you share!

sumber : detik.com