{"id":564,"date":"2019-06-07T10:37:00","date_gmt":"2019-06-07T03:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/artagani.com\/pub\/?p=564"},"modified":"2025-06-16T10:39:44","modified_gmt":"2025-06-16T03:39:44","slug":"%f0%9f%8e%92-belajar-rumah-adat-pakai-augmented-reality","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/artagani.com\/pub\/blog\/2019\/06\/07\/%f0%9f%8e%92-belajar-rumah-adat-pakai-augmented-reality\/","title":{"rendered":"\ud83c\udf92 Belajar Rumah Adat? Pakai Augmented Reality"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83d\udcda Artikel Jurnal :<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Judul:<\/strong> <em>Pengenalan Rumah Adat Indonesia Menggunakan Teknologi Augmented Reality Dengan Metode Marker Based Tracking Sebagai Media Pembelajaran<\/em><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Penulis:<\/strong> Tarmin Abdulghani &amp; Bambang Plasmana Sati<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Jurnal:<\/strong> <em>Media Jurnal Informatika<\/em> (Vol. 11, No.1, Juni 2019)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Link:<\/strong> <a class=\"\" href=\"https:\/\/pdfs.semanticscholar.org\/1b6b\/81a5e682c16b6b43cf72ee10992dbd73d246.pdf\">Klik untuk akses jurnal (PDF)<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83e\udde0 Pembukaan: Kalau Belajar Budaya Bisa Sekeren Ini, Kenapa Nggak?<\/h3>\n\n\n\n<p>Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kamu belajar tentang rumah adat Indonesia? SMP? Atau malah cuma tahu dari uang kertas?<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, Indonesia kaya banget sama yang namanya rumah adat. Tapi, sayangnya, cara belajarnya masih gitu-gitu aja\u2014dari buku cetak, gambar 2D, atau papan tulis. Gimana mau anak-anak tertarik kalau yang ditampilkan cuma visual statis?<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, di sinilah teknologi <em>Augmented Reality<\/em> (AR) datang sebagai penyelamat!<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83e\udd16 Isi Utama: AR, Cara Kekinian Buat Belajar Warisan Budaya<\/h3>\n\n\n\n<p>Penelitian dari Abdulghani &amp; Sati ini ngasih solusi yang fresh banget: bikin aplikasi pembelajaran rumah adat pakai teknologi AR yang bisa dijalankan di Android.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang bikin ini keren?<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Visualisasi 3D Rumah Adat Langsung dari Kamera<\/strong><br>Jadi, cukup arahkan kamera ke marker (semacam gambar penanda), dan <em>voil\u00e0!<\/em> rumah adat langsung muncul dalam bentuk 3D lengkap dengan informasi edukatif.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pakai Metode Marker-Based Tracking<\/strong><br>Teknologi ini bikin kamera bisa mengenali marker dan menampilkan objek digital dengan presisi tinggi. Bayangin kayak \u201cscan QR code\u201d, tapi yang muncul malah rumah Gadang atau Tongkonan!<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Fokus ke Edukasi<\/strong><br>Target aplikasi ini adalah siswa MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang pengen belajar rumah adat dengan cara lebih interaktif dan menarik. Tapi, honestly, siapa aja bisa pakai sih!<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83d\udccc Kenapa Ini Penting Banget?<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Digitalisasi Budaya = Upaya Pelestarian yang Efektif<\/strong><br>AR bisa jadi jembatan antara generasi muda dan warisan budaya. Ketimbang ngeluh budaya lokal makin dilupakan, kenapa nggak tampilkan budaya itu dalam bentuk digital yang keren?<\/li>\n\n\n\n<li><strong>AR Bukan Cuma Buat Game dan Filter Instagram<\/strong><br>Teknologi AR selama ini identik dengan game atau hiburan (ingat <em>Pok\u00e9mon Go<\/em>?). Tapi ternyata, bisa juga dipakai buat edukasi, marketing, sampai pelestarian budaya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Relevan di Era Kurikulum Merdeka<\/strong><br>Dengan pendekatan <em>student-centered learning<\/em>, AR bisa bantu guru menghadirkan pembelajaran berbasis proyek dan teknologi yang bikin siswa aktif &amp; penasaran.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83e\udde9 Apa Tantangannya?<\/h3>\n\n\n\n<p>Walaupun aplikasinya sudah dirancang dengan baik, ada beberapa saran dari penulis:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tambahkan lebih banyak rumah adat dari seluruh Indonesia.<\/li>\n\n\n\n<li>Perluas platform\u2014nggak cuma Android, tapi juga iOS atau Windows.<\/li>\n\n\n\n<li>Bisa dikombinasikan dengan GPS atau markerless AR untuk pengalaman yang lebih imersif.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83c\udfc1 Penutup: Ketika Teknologi dan Budaya Saling Pegang Tangan<\/h3>\n\n\n\n<p>Augmented Reality bukan lagi teknologi masa depan\u2014dia udah jadi alat kekinian yang bisa bantu banyak hal, termasuk pendidikan dan pelestarian budaya. Aplikasi rumah adat berbasis AR ini bukti bahwa kalau teknologi dipakai dengan niat baik, hasilnya bisa <em>keren<\/em> dan <em>berdampak<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, kalau kamu guru, pegiat budaya, atau sekadar tech enthusiast\u2014maybe it\u2019s time to explore AR bukan cuma buat seru-seruan, tapi juga buat <em>mengedukasi dan melestarikan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83d\udd11 Highlight Singkat Buat Kamu:<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>AR bisa bantu siswa belajar rumah adat dengan lebih interaktif.<\/li>\n\n\n\n<li>Marker-Based Tracking jadi metode keren yang dipakai di aplikasi ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Pembelajaran jadi makin menarik, kontekstual, dan pastinya, <em>techy banget!<\/em><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p>Kalau kamu tertarik bahas lebih dalam soal teknologi AR, atau pengen tahu cara bikin aplikasinya, komen aja di bawah. Atau mungkin kamu punya ide budaya lokal yang bisa dikemas pakai AR? Yuk ngobrol!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\ud83d\udcda Artikel Jurnal : \ud83e\udde0 Pembukaan: Kalau Belajar Budaya Bisa Sekeren Ini, Kenapa Nggak? Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kamu belajar tentang rumah adat Indonesia? SMP? Atau malah cuma&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":565,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-564","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publikasi_jurnal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=564"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/564\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/media\/565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/artagani.com\/pub\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}