Pelaksana Tim Kosabangsa 2023 – Universitas Pakuan & Universitas Suryakancana
Membaca Detak Kemanusiaan di Tengah Reruntuhan
Pasca gempa bumi dahsyat yang melanda Cijedil, Cianjur, tahun 2022 lalu, kebutuhan akan layanan kesehatan dasar menjadi prioritas utama. Di tengah keterbatasan fasilitas medis dan sumber daya manusia, masyarakat terdampak membutuhkan solusi yang praktis, cepat, dan akurat. Inilah konteks lahirnya beragam inovasi dari Program Kosabangsa 2023, hasil kolaborasi antara Universitas Pakuan dan Universitas Suryakancana, serta didukung oleh Kemendikbudristek.
Melalui pendekatan transdisipliner, tim Kosabangsa membawa teknologi kesehatan berbasis mikrokontroler yang tidak hanya murah dan portabel, tetapi juga mudah digunakan oleh masyarakat. Tiga inovasi yang menjadi sorotan utama adalah: alat detak jantung dan suhu tubuh, alat deteksi dini aliran darah, serta kalkulator digital LILA (Lingkar Lengan Atas) untuk ibu hamil.
1. Deteksi Dini Kesehatan: Alat Detak Jantung dan Suhu Tubuh Berbasis ESP8266
Inovasi pertama adalah alat pendeteksi detak jantung dan suhu tubuh berbasis NodeMCU ESP8266. Alat ini dirancang agar dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat untuk memantau kondisi dasar tubuh, terutama dalam kondisi darurat pasca bencana.
Bagaimana alat ini bekerja?
- Sensor Pulse (MAX30100) dipasang untuk mendeteksi denyut nadi dan saturasi oksigen melalui jari.
- Sensor suhu tubuh (MLX90614) secara non-kontak mengukur temperatur pengguna.
- Data dari sensor dikirim ke mikrokontroler ESP8266, kemudian ditampilkan melalui layar OLED atau LCD 16×2.
- Hasil pengukuran juga dapat dikirim melalui koneksi internet untuk pemantauan jarak jauh berbasis IoT.
Keunggulan alat ini adalah bentuknya yang ringan, biaya rendah, serta daya yang rendah sehingga bisa menggunakan power bank atau solar cell portable. Sangat ideal digunakan di tenda-tenda pengungsian maupun posko kesehatan darurat.

2. Model Deteksi Normal–Abnormal Aliran Darah: Teknologi Kecil dengan Fungsi Vital
Teknologi kedua yang dikembangkan adalah alat untuk mendeteksi aliran darah normal dan abnormal, khususnya detak jantung, dengan studi kasus pada ibu hamil, namun juga relevan untuk masyarakat umum.
Komponen utama alat ini meliputi:
- Pulse sensor MAX30100, mampu membaca BPM (beats per minute) dan saturasi oksigen darah.
- LCD 16×2 untuk menampilkan informasi denyut jantung secara langsung.
- Mikrokontroler Arduino Uno R3 sebagai otak pemrosesan data dari sensor ke layar.
Alat ini dapat membedakan antara pola detak jantung yang sehat dan tidak sehat, yang menjadi penting dalam mendeteksi gejala dini penyakit kardiovaskular, stres, atau kondisi tidak stabil yang bisa berisiko saat evakuasi atau di kondisi darurat.
Dengan sistem non-invasif dan penggunaan yang sederhana (cukup dengan menempelkan jari ke sensor), teknologi ini sangat ramah pengguna dan bisa dioperasikan oleh kader kesehatan masyarakat setelah mengikuti pelatihan singkat.
3. Kalkulator LILA Digital untuk Ibu Hamil: Menjaga Generasi dari Awal
Salah satu kelompok paling rentan dalam bencana adalah ibu hamil. Malnutrisi menjadi ancaman serius ketika akses makanan sehat dan layanan kesehatan terbatas. Untuk menjawab masalah ini, tim mengembangkan Kalkulator LILA Digital Portabel, yaitu alat ukur digital berbasis mikrokontroler untuk menilai status gizi ibu hamil melalui lingkar lengan atas.
Komponen utama alat ini terdiri dari:
- Keypad numeric untuk memasukkan nilai pengukuran manual lingkar lengan.
- LCD 16×2 dan driver-nya untuk menampilkan hasil.
- Arduino Uno dan Arduino Nano sebagai pemroses data.
- Casing dan power supply menjadikan alat ini portabel dan bisa digunakan kapan saja.
Setelah data lingkar lengan dimasukkan, alat secara otomatis akan memberi indikator gizi, apakah ibu hamil tersebut berisiko mengalami KEK (Kekurangan Energi Kronis) atau tidak. Informasi ini menjadi dasar intervensi cepat: apakah perlu rujukan ke puskesmas, atau cukup edukasi gizi di lokasi.

Edukasi, Pelatihan, dan Harapan yang Ditransfer
Ketiga teknologi ini bukan hanya dikembangkan dan diserahkan begitu saja. Melalui program pelatihan dan pendampingan langsung, masyarakat dan relawan diajarkan cara merakit, mengoperasikan, dan merawat alat-alat ini secara mandiri. Modul-modul pelatihan juga disiapkan dalam bahasa sederhana, dengan pendekatan visual dan praktik langsung, agar pemahaman bisa merata.
Sebagai hasilnya, tidak hanya alat yang ditinggalkan, tetapi pengetahuan dan kepercayaan diri masyarakat juga tumbuh. Inilah esensi dari transfer teknologi yang sesungguhnya: membangun kemandirian komunitas melalui ilmu dan teknologi.
Menuju Masa Depan Resilien: Teknologi Sosial yang Dapat Direplikasi
Ketiga alat ini adalah contoh nyata dari teknologi sosial—hasil pemikiran ilmiah yang langsung menyentuh kehidupan nyata. Di tangan masyarakat, teknologi tidak lagi eksklusif dan membingungkan, melainkan menjadi alat penyelamat dan pendukung kehidupan harian.
Proyek ini membuka peluang besar untuk replikasi di daerah lain di Indonesia, baik yang rawan bencana maupun dengan keterbatasan layanan kesehatan. Karena selain hemat biaya, alat-alat ini tidak tergantung pada jaringan listrik, sangat cocok untuk daerah pelosok dan lokasi pengungsian.
Penutup: Sains untuk Kemanusiaan
Ketika ilmu pengetahuan turun langsung ke masyarakat dan menyatu dengan empati sosial, maka lahirlah inovasi yang bukan hanya canggih, tetapi juga bermakna. Dalam proyek Kosabangsa 2023 ini, ketiga teknologi yang dikembangkan menjadi simbol bahwa kesehatan adalah hak setiap orang, dan teknologi adalah jembatan untuk mencapainya—tanpa harus mahal, tanpa harus rumit.
Mari dorong terus semangat inovasi yang membumi, agar tak ada lagi ibu hamil yang kekurangan gizi, tak ada lagi warga yang tak mampu mengecek detak jantungnya sendiri, dan tak ada lagi daerah yang tertinggal dalam akses terhadap teknologi kesehatan.
Jika Anda ingin mendalami atau menerapkan teknologi ini di wilayah Anda, silakan hubungi melalui kanal resmi LPPM Universitas Pakuan atau Universitas Suryakancana.


